Kenali Jenis Tunagrahita dan Tes untuk Mendiagnosisnya 

Apa itu tunagrahita merupakan kondisi keterbelakangan yang menyebabkan seseorang memiliki IQ rendah

Apakah anak Anda mengalami gejala, seperti  terlambat merangkak, berjalan, berguling atau duduk, kemampuan intelektual dan IQ yang rendah bahkan sulit melakukan hal-hal dasar, seperti berpakaian dan makan sendiri? Ada baiknya Anda konsultasikan pada dokter. Sebab, bisa jadi anak Anda mengalami tunagrahita

Tunagrahita atau disabilitas intelektual adalah kondisi di mana anak memiliki kemampuan intelektual dan IQ di bawah rata-rata, yakni berkisar di bawah 70. Sementara, normalnya, anak-anak memiliki IQ berkisar 85 hingga 115. 

Anak-anak yang menderita tunagrahita punya kesulitan dalam melakukan fungsi intelektual, seperti belajar, sulit memecahkan masalah, dan berpikir logis, serta sulit menjalankan fungsi adaptif, seperti beraktivitas sehari-hari, mulai dari makan sendiri, berpakaian, hingga berkomunikasi. 

Kondisi ini bisa terjadi pada siapapun dengan tingkat yang ringan atau lebih parah. Namun, biasanya baru terdeteksi ketika anak mulai masuk usia sekolah atau 18 tahun. Meskipun begitu, bukan berarti anak tidak bisa belajar kemampuan atau informasi baru. Tetap bisa, hanya saja lebih lambat dalam menguasainya. 

Klasifikasi Tunagrahita

Berdasarkan tingkat IQ anak, tunagrahita bisa dibagi menjadi 4 jenis, yaitu :

  1. Tunagrahita ringan

Rentang IQ pada tunagrahita ringan berkisar antara 55-70. Anak dengan jenis tunagrahita ini ditandai dengan perkembangan fisik yang agak lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan ketika harus menyelesaikan tugas akademik di sekolah. Namun, masih bisa melakukan keterampilan praktis sehingga bisa hidup mandiri ketika sudah menginjak usia dewasa.

  1. Tunagrahita sedang 

Tunagrahita jenis ini memiliki rentang IQ 40-55. Pada kondisi ini, anak memiliki kemampuan komunikasi yang sederhana bahkan hanya bisa menyampaikan kebutuhan dasar, seperti makan, minum, dan mandi. 

Dari penampilan fisik juga menunjukkan kelainan. Namun, anak masih bisa dilatih agar mampu mengurus diri sendiri meskipun dalam prosesnya akan membutuhkan waktu yang lebih lama. 

  1. Tunagrahita berat 

Pada jenis ini, anak memiliki IQ dengan rentang 25-40 yang ditandai dengan gangguan bicara dan kelainan fisik yang bisa dilihat dari ukuran kepalanya yang lebih besar, tatapan mata yang kosong, dan terus-menerus mengeluarkan air liur. Selain itu, kondisi fisik anak dengan tunagrahita berat ini juga lemah akibat gangguan motorik yang berat. Hal ini menyebabkan anak tidak bisa melakukan tugas sederhana maupun mengurus diri sendiri. 

  1. Tunagrahita sangat berat 

Ini merupakan tunagrahita yang paling berat dan ditandai dengan rentang IQ yang berada di bawah 25. Kondisi ini ditandai dengan ukuran kepala anak yang lebih besar daripada ukuran normal seperti penderita hidrosefalus. Anak dengan kondisi ini juga tidak bisa melakukan aktivitas apapun tanpa adanya bantuan dari orang lain. Lebih lanjut, anak penderita tunagrahita sangat berat membutuhkan perawatan medis intensif. 

Diagnosis Tunagrahita

Dalam mendiagnosis anak menderita tunagrahita, umumnya dokter menggunakan dua cara berikut ini. 

  1. Tes Kecerdasan Intelektual

Salah satu ciri-ciri anak menderita tunagrahita adalah memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang sangat rendah. Oleh karena itu, tes ini dibutuhkan dalam mendiagnosis gangguan ini. 

Tes ini dilakukan dengan cara mengukur kemampuan anak dalam belajar dan memecahkan masalah. Jika anak menderita tunagrahita, skor IQ yang rendah, yakni berkisar 55 – 70. 

Sayangnya, tes ini baru bisa dilakukan bila anak sudah berusia 4 sampai 6 tahun. Oleh karena itu, orang tua mungkin harus menunggu sampai anak mencapai usia tersebut sebelum mengetahui secara pasti apakah anak mengalami tunagrahita atau tidak. 

  1. Tes Perilaku Adaptif

Selain punya kemampuan intelektual dan IQ di bawah rata-rata, anak yang mengalami tunagrahita juga sulit menjalani fungsi sehari-hari. Oleh karena itu, dilakukan tes perilaku adaptif ini. Tujuannya adalah untuk melihat apa saja yang sudah bisa dilakukan anak sesuai dengan usianya saat ini. 

Ada tiga hal yang dinilai dalam tes ini, yakni

  • Konseptual, meliputi kemampuan berbahasa, membaca, menulis, penalaran, menghitung, pengetahuan, dan memori
  • Sosial, meliputi rasa empati, keterampilan berkomunikasi, mengikuti aturan, dan menjalin pertemanan
  • Praktikal, meliputi kemampuan mengurus diri sendiri, tanggung jawab pekerjaan, mengelola uang, dan mengatur tugas 

Tips untuk Orang Tua dalam Merawat Anak dengan Gangguan Tunagrahita

Dalam merawat dan membesarkan anak dengan disabilitas intelektual ini pastinya berbeda dengan anak-anak normal. Ini juga mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Berikut beberapa tips untuk orang tua dalam merawat anak berkebutuhan khusus ini. 

  • Mencari tahu mengenai gangguan yang diderita anak, bisa bertanya pada dokter maupun psikolog anak. 
  • Terhubung dengan orang tua lain yang juga memiliki anak dengan gangguan tunagrahita agar Anda tidak merasa sendirian dan bisa mendapat dukungan dari mereka.
  • Bersabar. Anak yang menderita tunagrahita sedikit lambat dalam mempelajari hal-hal baru, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa. Hanya saja, butuh waktu yang lebih lama dan kesabaran dalam mengajarinya. 
  • Mendorong kemandirian dan tanggung jawab anak
  • Memberi semangat dan dorongan pada anak tunagrahita agar mereka bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri secara perlahan

Itulah beberapa tipe dan tes yang dilakukan untuk mendiagnosis anak mengalami tunagrahita atau tidak. Jika Anda kesulitan dalam merawat anak dengan disabilitas intelektual ini, jangan ragu untuk mencari batuan bisa ke psikiater atau psikolog. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *